Membuat Alat Sterilisasi yang Aman dan Sesuai Standar WHO

WHO memberikan peringatan karena banyak orang asal membuat bilik. Bagaimana sih alat sterilisasi aman yang sesuai standard WHO?
iBilik sterilisasi menjadi salah satu alternative solusi pencegahan penyebaran Covid-19 setelah keberhasilan Vietnam dalam menekan kurva penyebaran. Istilah disinfektan, antiseptic, dan sterilisasi menjadi hal yang akrab di telinga masyarakat semejak angka penderita terus bertambah di Indonesia. Bahkan, baru-baru ini World Health organization (WHO) memberikan peringatan tentang penggunaan alcohol dan klorin pada tubuh, terkait dengan maraknya produk-produk yang diracik oleh masyarakat.
Menanggapi hal ini, di lansir dari artikel di laman KOMPAS.com tanggal 30 Maret 2020, Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember ( ITS) Surabaya, Prof Dr rer nat Fredy Kurniawan MSi, memberikan penjelasan mengenai penggunaan disinfektan dan antiseptic dalam produk-produk yang dinilai dapat membantu mencegah penyebaran virus Covid-19. Dalam artikel teresbut, beliau memberikan penjelasan bahwa pemakaian bahan antiseptik dan disinfektan oleh pihak yang tidak memiliki kompetensi dalam bidang tersebut dapat membayakan diri, orang lain dan lingkungan. Karena bahan-bahan tersebut pada dasarnya merupakan bahan-bahan kimia yang memerlukan perhitungan yang sistematis dan terkontrol sebelum dicampur dengan bahan-bahan yang lain.
Beda Antiseptik dan Disinfektan
Berdasarkan penjelasan WHO, pengertian antiseptik adalah jenis disinfektan yang dapat menghancurkan atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme tanpa mengakibatkan cedera pada pengguna. Sedangkan disinfektan berfungsi untuk menghancurkan dan menghambat mikroorganisme patogen pada keadaan nonspora atau vegetative. Bahan-bahan disinfektan yang dengan mudah dapat didapatkan di masyarakat contohnya seperti polyvidone iodine, chlorhexidine, dan alcohol. WHO sendiri telah memberikan rekomendasi pembuatan produk sanitasi instan yang terbuat dari etanol dan Iso Propyl Alcohol (IPA). Namun hanya dengan pengetahuan tersebut, tidak semata-mata membuat setiap orang memiliki kualifikasi untuk membuat produk-produk disinfektan secara mandiri. Alkohol sendiri dikenal sebagai senyawa yang mudah terbakar dan menguap, oleh karena itu penggunaan sesuai dengan takaran yang tepat dan proses pembuatan yang aman dan sesuai standar laboratorium sangat disarankan.
Membuat Alat Sterilisasi Mandiri
Berdasarkan alasan di atas, WHO tidak menyarankan pembuatan bilik sterilisasi dan bahan disinfektan dilakukan secara bebas dan tanpa pengawasan pihak-pihak berkualifikasi. Bahan-bahan seperti etanol, klorin, dan H2O2 bersifat karsinogenik atau dapat memicu kangker, dan bahkan bisa menyebabkan mutasi bakteri. Sehingga tidak direkomendasikan untuk digunakan dalam bilik sterilasi dan digunakan langsung pada kulit dalam waktu yang lama.
Penggunaan bilik sterilisasi sebenarnya dapat mencegah penyebaran virus karena bertujuan untuk membunuh pathogen yang menempel pada pakaian dan permukaan tubuh sebelum pengguna memasuki ruangan atau bangunan. Namun, apabila bahan kimia yang digunakan tidak sesuai dengan standar kesehatan, maka efeknya malah berbahaya bagi kesehatan. Semakin maraknya pembuatan bilik sterilasi secara mandiri dapat membawa dampak negatif bagi masyarakat pada satu atau dua tahun ke depan. Pasalnya, banyak pihak yang mengharuskan pengunjung untuk melewati bilik tersebut sebelum memasuki properti umum tanpa menjelaskan bahan-bahan yang digunakan.
Alat Sterilisasi Aman Sesuai Standar WHO
Centers of Disease Control and Prevention (CDCP) dan WHO sebenarnya telah mengeluarkan rekomendasi senyawa yang cukup aman digunakan sebagai bahan disinfektan bilik sterilisasi. Ozon dan klorin dioksida dinyatakan dapat digunakan namun hanya dengan dosis yang telah diukur dan pembuatan yang diawasi oleh tenaga professional. Diluar kedua senyawa tersebut, bahan-bahan kimia lainnya walaupun dapat membunuh pathogen, namun memiliki efek samping yang membahayakan apabila digunakan dalam jangka panjang. Ozon dan Klorin Dioksida memiliki potensi mengurangi penyebaran covid-19 dengan aman apabila digunakan dengan benar. Oleh karena itu, sangat penting untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional atau instansi yang memiliki kualifikasi dalam penganganan bahan-bahan kimia. Pembuatan bilik sterilisasi mandiri mungkin dapat menghemat biaya namun juga dapat membahayakan penggunanya. Sebaiknya pengadaan produk dilakukan secara bertanggung jawab dan dipercayakan kepada pihak-pihak yang memang telah mempelajari dan mengerti standar pembuatan yang direkomendasikan oleh WHO dan CDCP.


